Beranda | Artikel
Hakikat Al-Qarin dan Kesaksian Amal
23 jam lalu

Hakikat Al-Qarin dan Kesaksian Amal adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 20 Syawal 1447 H / 9 April 2026 M.

Kajian Islam Tentang Hakikat Al-Qarin dan Kesaksian Amal

Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan mengenai sosok Al-Qarin yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut. Di dalam surah Qaf, istilah ini disebutkan pada ayat ke-23 dan ke-27:

وَقَالَ قَرِينُهُ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ

“Dan (malaikat) yang menyertainya berkata: ‘Inilah apa yang ada padaku, yang telah siap (dicatat)’.” (QS. Qaf [50]: 23)

Kemudian pada ayat ke-27 disebutkan pula:

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“Qarin (setan) berkata: ‘Wahai Rabb kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh’.” (QS. Qaf [50]: 27)

Identitas Al-Qarin dalam Tafsir

Mengenai siapa yang dimaksud dengan Al-Qarin dalam dua ayat tersebut, terdapat sekelompok ulama yang menafsirkan bahwa Al-Qarin pada ayat ke-23 adalah malaikat yang menyertai manusia. Malaikat ini bertugas mencatat amal perbuatan dan mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan malaikat ini ada demi menegakkan keadilan di hadapan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat kelak.

Pada saat itu, manusia mencoba membela diri di hadapan Allah dengan menuduh malaikat telah melebih-lebihkan catatan amal perbuatannya. Hamba tersebut mengaku tidak pernah melakukan perbuatan yang dilaporkan dan menuduh malaikat tidak jujur dalam mencatat amalnya. Ia juga berdalih bahwa malaikat tergesa-gesa mencatat kesalahannya tanpa memberikan kesempatan baginya untuk bertobat terlebih dahulu.

Namun, malaikat tersebut membantah tuduhan dusta itu. Malaikat menegaskan bahwa ia tidak pernah menambah catatan dari apa yang sebenarnya dilakukan oleh hamba tersebut. Malaikat adalah makhluk yang senantiasa taat, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Malaikat menyatakan bahwa ia tidak pernah terburu-buru dalam mencatat atau menghalangi kesempatan bertobat bagi manusia. Sebaliknya, manusia itu sendirilah yang memang berada di dalam kesesatan yang nyata dan jauh dari kebenaran. Malaikat yang menyertainya akan memberikan kesaksian yang jujur. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Qaf, malaikat tersebut berkata:

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“Qarin (malaikat) berkata: ‘Wahai Rabb kami, aku tidak memaksanya untuk melampaui batas, tetapi dia sendiri yang memang berada dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Qaf [50]: 27)

Mendengar perdebatan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman untuk menghentikan segala bentuk perselisihan yang sia-sia di hadapan-Nya:

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ

“Allah berfirman: ‘Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan peringatan kepadamu’.” (QS. Qaf [50]: 28)

Segala bentuk perdebatan tidak lagi diperlukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para nabi dan rasul ‘Alaihimus Shalatu wassallam serta menurunkan kitab-kitab sebagai peringatan tentang balasan pada hari kiamat.

Pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa qarin dalam ayat ini adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjaga dan mencatat amal perbuatan hamba.

Perselisihan di Hari Kiamat

Al-Qur’an menggambarkan berbagai bentuk pertengkaran yang terjadi pada hari pembalasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perdebatan antara orang-orang kafir dengan setan yang dahulu menggoda mereka di dunia dalam Surah Ash-Shaffat dan Surah Al-A’raf. Selain itu, pertengkaran antar manusia juga disebutkan dalam Surah Az-Zumar, sementara perselisihan di antara sesama penduduk neraka dikabarkan dalam Surah Asy-Syu’ara dan Surah Shad.

Dalam Surah Qaf ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyoroti pertengkaran antara malaikat (qarin) dengan hamba yang selalu disertainya. Di dunia, seseorang mungkin bisa berdusta atau berkelit di hadapan pihak berwenang maupun raja manusia. Namun, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui perkara gaib, segala kedustaan tidak akan berlaku.

Ketetapan Allah yang Tidak Berubah

Segala ucapan dan kenyataan tidak akan bisa diubah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ 

“Keputusan di hadapan-Ku tidak dapat diubah dan Aku sedikit pun tidak menzalimi hamba-hamba-Ku.” (QS. Qaf [50]: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa berdusta, menambah, atau mengurangi catatan amal yang telah ditetapkan. Salah satu tafsir menyebutkan bahwa “keputusan yang tidak dapat diubah” merujuk pada ketetapan takdir Allah, sebagaimana firman-Nya:

لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS. Hud [11]: 119)

Ketetapan ini tidak akan berubah. Hal tersebut seharusnya menjadikan setiap mukmin semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah, senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memohon pertolongan-Nya agar dijauhkan dari keburukan siksa neraka.

Ketentuan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam syariat mengenai sebab-sebab keselamatan dari azab neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perintah dan larangan untuk menjauhkan hamba-Nya dari perbuatan yang menjerumuskan ke dalam kebinasaan. Sebaliknya, perintah untuk melakukan kebaikan merupakan sarana yang memudahkan hamba untuk meraih surga-Nya melalui rahmat dan karunia-Nya.

Ketetapan dan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang beriman untuk masuk surga bersifat mutlak dan tidak akan berubah. Keputusan ini tidak mungkin diingkari karena Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menepati janji-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 9)

Penafsiran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu

Mengenai ketetapan ini, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma memberikan penafsiran bahwa janji Allah tidak akan diingkari, baik bagi orang-orang yang taat maupun bagi pelaku maksiat. Meskipun seorang hamba merasa takut terhadap ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, syariat memberikan jalan keluar yang jelas. Seseorang harus mengikuti jalan ketaatan agar selamat dan menjauhi jalan kedurhakaan agar terhindar dari kebinasaan.

Keyakinan ini tidak bertentangan dengan iman terhadap takdir bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan penghuni surga dan neraka. Kewajiban hamba adalah mengikuti perintah Allah sebagai sebab untuk menuju surga dan menjauhi segala larangan yang dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

Pendapat Imam Mujahid dan Penguatan Ibnu Qayyim

Imam Mujahid bin Jabar Al-Makki rahimahullahu ta’ala, seorang ahli tafsir dari kalangan tabiin, turut menegaskan bahwa segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan bisa berubah. Pendapat ini didukung oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala sebagai tafsir yang paling kuat di antara pendapat yang ada.

Ayat ini menegaskan bahwa janji serta ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat tetap. Hal ini memberikan harapan bagi pelaku maksiat untuk segera berbalik mendapatkan janji kebaikan Allah dengan cara bertobat dan kembali kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam bertobat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Oleh karena itu, jika seseorang terjerumus ke dalam keburukan, ia harus segera bertobat agar termasuk ke dalam golongan orang yang mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keadilan Mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Persidangan Akhirat

Pendapat kedua mengenai ayat ini menjelaskan bahwa ucapan atau kenyataan tidak dapat diubah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui kedustaan maupun manipulasi (talbis). Fenomena mengubah pernyataan atau menyamarkan fakta mungkin saja terjadi di hadapan raja-raja dunia atau para penegak hukum manusia. 

Manusia tidak mengetahui perkara gaib maupun apa yang tersembunyi di dalam hati sesamanya. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ‘Alimul Ghaibi wasyahadah, Dzat yang Maha Mengetahui perkara yang tampak maupun yang tersembunyi. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

“Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk [67]: 13)

Dalam menafsirkan Surah Qaf ayat 29, terdapat dua pendapat utama mengenai makna “ucapan” (al-qaul) yang tidak dapat diubah. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah ketetapan dan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pendapat kedua, yang dipilih oleh Imam Al-Farra dan Imam Ibnu Qutaibah rahimahumullahu ta’ala, menyatakan bahwa “ucapan” di sini merujuk pada ucapan atau pembelaan hamba saat berdebat dengan malaikat pencatat amal.

Imam Al-Farra menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat berdusta di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia Maha Mengetahui segala perkara gaib. Senada dengan hal tersebut, Ibnu Qutaibah menegaskan bahwa ucapan di hadapan Allah tidak dapat diubah, ditambah, maupun dikurangi. Alasan penggunaan redaksi al-qaulu indi (ucapan di sisi-Ku) dan bukan qauli (ucapan-Ku) menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kenyataan amal perbuatan manusia yang tidak dapat dimanipulasi.

Ketika seorang hamba mencoba menuduh malaikat menambah atau mengurangi catatan amalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung membantahnya. Tidak mungkin ada kedustaan yang lolos di hadapan Dzat yang Maha Melihat. 

Keadilan dan Pengharaman Kezaliman

Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ucapkan dan janjikan pasti terjadi. Bersamaan dengan ketetapan tersebut, Allah tetap Maha Adil tanpa ada unsur kezaliman sedikit pun. Hukum-Nya sempurna dalam kebenaran dan keadilan, sebagaimana firman-Nya:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’am [6]: 115)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya sendiri. Dalam sebuah hadits qudsi yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan firman Allah:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak berubah ini merupakan bentuk keadilan yang nyata. Dia telah menurunkan petunjuk yang gamblang melalui syariat-Nya serta mengutus para nabi dan rasul ‘Alaihimus Shalatu wassallam untuk menjelaskan jalan kebenaran. Para rasul telah memberikan teladan sempurna mengenai jalan menuju surga dan memberikan peringatan keras untuk menjauhi jalan yang mengantarkan ke neraka. 

Kesempurnaan Ilmu dan Keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Berdasarkan penafsiran kedua mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Qaf, ucapan manusia di dunia tidak akan bisa diubah. Segala sesuatu yang telah mereka lakukan dan dicatat oleh malaikat tidak dapat ditambah maupun dikurangi. Di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada seorang pun yang mampu melakukan kedustaan. Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati diri-Nya dengan dua perkara yang agung.

Pertama, kesempurnaan ilmu dan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencegah adanya perubahan catatan amal di hadapan-Nya. Segala bentuk upaya untuk memutarbalikkan fakta atau membawa kebatilan tidak akan berlaku. Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna dalam pengetahuan dan penglihatan-Nya terhadap setiap ucapan serta perbuatan hamba selama di dunia.

Kedua, kesempurnaan sifat adil dan kemandirian Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala makhluk menjadikan mustahil bagi-Nya untuk menzalimi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki hajat atau kepentingan untuk sengaja menzalimi manusia dengan memberikan balasan yang tidak sesuai dengan perbuatan mereka. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-hamba yang berbuat kebaikan dan rida kepada mereka yang senantiasa mengamalkan ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Cukup dan Maha Kaya sehingga tidak mungkin bersikap aniaya.

Pelajaran bagi Hamba

Seorang hamba tidak memiliki alasan untuk berkilah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keadaan orang-orang munafik yang menyangka dapat berdusta di akhirat sebagaimana mereka bersumpah palsu di dunia dijelaskan dalam Al-Qur’an:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ ۖ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Ingatlah pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat sesuatu (keuntungan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 18)

Di dunia, mereka mungkin dapat memperdaya manusia karena manusia tidak mengetahui isi hati yang sesungguhnya. Namun, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan balasan yang sempurna serta seadil-adilnya.

Keluasan Neraka Jahanam

Setelah menjelaskan tentang Al-Qarin, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Qaf ayat 30 mengenai kengerian neraka jahanam. Jahanam digambarkan sedemikian luas sehingga setiap kali penghuninya dimasukkan, neraka tersebut tetap merasa tidak cukup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ

“(Dan ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahanam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?`” (QS. Qaf [50]: 30)

Penghuni neraka dimasukkan dengan cara dilemparkan, bukan dengan kemuliaan. Meskipun rombongan demi rombongan penghuni dilemparkan ke dalamnya, neraka tetap bertanya apakah masih ada tambahan. Hal ini menunjukkan betapa luasnya neraka jahanam dan ketersediaan tempat bagi orang-orang yang memang pantas menempatinya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala mengingatkan adanya kekeliruan sebagian orang yang menafsirkan kalimat tersebut sebagai bentuk penafian, seolah-olah neraka berkata bahwa sudah tidak ada lagi tambahan karena telah penuh. Penafsiran tersebut salah karena hadits yang shahih secara jelas membantahnya. Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keluasan neraka Jahanam dipertegas melalui hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ يُلْقَى فِيهَا وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

“Neraka Jahanam senantiasa dilemparkan ke dalamnya para penghuninya, dan ia selalu bertanya, ‘Apakah masih ada tambahan?`” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika ditanya apakah sudah penuh, neraka tetap meminta tambahan. Hal ini terus berlanjut hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan “Kaki-Nya” yang Maha Mulia di atas neraka Jahanam. Seketika itu pula, bagian-bagian neraka saling merapat satu sama lain dan ia berseru, “Cukup, cukup, ya Rabb.”

Terdapat pelajaran berharga dari fenomena ini. Meskipun neraka Jahanam begitu luas, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memasukkan makhluk lain ke dalamnya yang memang tidak pantas mendapatkan siksa. Ketika seluruh penghuni surga telah masuk, masih terdapat tempat yang kosong di dalamnya. Berdasarkan hadits shahih, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan makhluk baru untuk menempati sisa tempat yang kosong tersebut. Sebaliknya, dalam hal neraka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikannya penuh dengan menempatkan hamba-hamba yang tidak berdosa. Fakta ini menunjukkan betapa luasnya karunia, rahmat, serta besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

Penjelasan mengenai keadaan neraka ini semestinya menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran tersebut harus mendorong setiap hamba untuk mempersiapkan diri melalui amal kebaikan dan menghindari segala keburukan agar selamat dari ancaman azab neraka Jahanam, seraya terus berlindung serta memohon penjagaan-Nya.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Hakikat Al-Qarin dan Kesaksian Amal” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56145-hakikat-al-qarin-dan-kesaksian-amal/